Liburan ke Bandung dan Ciwidey

Pada liburan semester 7, saya bersama beberapa teman kampus saya pergi berlibur ke Bandung. Kami ingin sejenak melepas penat selama 6 bulan sebelumnya diisi dengan berbagai tugas. Salah satu pertimbangan Mengapa kami memilih Bandung adalah ada tempat wisata yang tentunya tidak akan kalian lewatkan saat berkunjung ke Bandung. Bandung selama ini dikenal dengan kota sejuta factory outlet. Suatu tempat yang bisa menjadi "surga" belanja bagi para kaum wanita. Di kota Bandung juga dikenal sebagai tempat 'lahirnya' seniman besar Indonesia, tidak heran kalian bisa menemui beberapa seniman jalanan di beberapa sudut jalanan kota Bandung.

Dari Jakarta kami memilih untuk menggunakan kereta pagi untuk pergi ke kota Bandung dengan alasan ingin menikmati suasana baru yang tidak kami temukan saat pergi menggunakan kendaraan beroda empat. Kami berangkat dari Jakarta lewat stasiun Gambir. Kebetulan rumah saya paling dekat dengan stasiun Gambir, jadi saya bisa lebih santai mempersiapkan. Sesampainya di stasiun Gambir, saya duduk di depan loket sambil menunggu 4 teman lainnya yang datang dari Depok. Tidak butuh waktu yang lama, kami akhirnya bertemu dan membeli tiket di loket. Antrian pembelian tiket KA Parahyangan saat itu tidak terlalu banyak sehingga kami bisa langsung mendapatkan tiket. Setelah itu sebelum naik ke atas peron kami diperiksa nama yang tertea di tiket harus sama dengan KTP masing-masing. Sambil menunggu kereta datang, kami membeli makanan untuk mengisi perut yang tidak sempat sarapan. Setelah kereta datang kami duduk di tempat duduk masing-masing. Kereta mulai berjalan sesuai tepat waktu. Saya terkesan dengan ketepatan waktu ini. 

Duduk di dalam gerbong kami mengisi waktu dengan mengobrol, membaca buku atau tidur sejenak. Perjalanan dari Stasiun Gambir sampai stasiun Bandung Kota memakan waktu 3 jam. Sebelum memasuki kota Bandung, kereta akan melewati sawah serta gunung yang menyajikan pemandangan yang indah. Kereta juga sempat memasuki terowongan yang cukup panjang. 


Sekitar jam 1 siang kami sampai di kota Bandung. Dengan pengetahuan transportasi dan modal nekat, kami bermaksud mencari penginapan di daerah Kiara Condong. Ada 4 teman kami yang sebelumnya sudah sampai duluan dan sudah mendapatkan tempat menginap. Akhirnya kami menanyakan transportasi apa yang bisa mengantar kami ke daerah tersebut. Di mulai dengan jalan kaki, kemudian kita sambung menyambung angkot beberapa kali, akhirnya kami menemukan tempat penginapan tersebut. Agak jauh memang dari jalan raya, tapi cukup dekat dengan berbagai penjual makanan dan daerahnya cukup tenang. Setelah itu kami beristirahat sejenak dan merencanakan untuk ke daerah Dago. Dari Kiara Condong cukup naik satu kali angkot, saya lupa angkot nomor berapa, tapi yang pasti angkotnya berwarna putih dan ada tulisan Dago di trayeknya. Oh ya, selama di kota Bandung kami selalu naik angkot untuk menghenat biaya. Cukup dengan 3500 rupiah sudah bisa mengantar ke tempat tujuan. 

Di Simpang Dago, terdapat puluhan jenis warung tenda. Kalian bisa memilih sesuai dengan keinginan. Tapi sayang, saat ingin berkeliling, hujan cukup deras sempat mengguyur kota Bandung. Kamipun memutuskan untuk makan ayam goreng dengan nasi bakar. Nasi Bakar porsinya sangat banyak. Setelah hujan reda, kami menyusuri jalanan Dago. Di setiap tepi jalanan Dago terdapat factory outlet yang menjual baju dan makanan serta cemilan khas Bandung. Dago bisa jadi salah satu tempat untuk membeli oleh-oleh makanan buat keluarga dirumah. Di ujung jalan, terdapat tulisan DAGO dengan ukuran yang cukup besar dan terdapat beberapa lampu bulat warna-warni. Kami sempat iseng-iseng berfoto di depan tulisan DAGO. 


Setelah puas mengabadikan momen, kami kembali ke penginapan dan beristirahat untuk menyediakan tenaga untuk jalan-jalan keesokanharinya. Hari ke-2, kami memutuskan untuk menyewa mobil karena kita akan pergi ke Kawah Putih, Ciwidey. Setelah berhitung-hitung biaya transportasi umum, ternyata untuk sampai ke sana cukup mahal dan terasa lebih hemat menggunakan mobil sewaan. Kami bangun pagi-pagi dan bersiap setelah itu sekitar pukul 9 kami berangkat ke Ciwidey. Butuh waktu sekitar 2 jam untuk ke sana. Sebelum sampai ke atas kami membeli sarapan. Sesampainya di kawasan kawah putih, ternyata biaya mobil untuk bisa parkir diatas adalah 150 ribu. Akhirnya kami memutuskan untuk turun dan menaiki angkutan yang sengaja disiapkan oleh petugas Kawah Putih. Kami naik semacam odong-odong yang dihargai 25.000 pulang-pergi per orangnya. 


Jalan yang dilalui sudah agak berbeda dibanding kali terakhir saya mengunjungi Kawah Putih, saat ini kondisi jalanan relatif bagus dan sudah diaspal. Berbeda ketika saat saya SMA, jalanan masih berbatu dan agak sulit dilewati oleh kendaraan. Terlihat si pengemudi odong-odong ini sangat lihai melewati berbagai tikungan tajam yang berbatasan langsung dengan jurang. Lumayan, uji adrenalin singkat. Sesampainya di atas, saya tidak membayangkan jika udara terasa sangat-sangat dingin. Kebetulan pada saat itu kabut tebal yang sedang turun. Anginnya pun kencang disertai rintik hujan. Telapak tangan mulai terasa seperti ketusuk-tusuk karena udara dingin. Pengunjung Kawah Putih siang itu tidak begitu ramai. Salah satu yang saya suka di Kawah Putih ini adalah pemandangan kawah yang berwarna putih kebiruan yang terlihat sangat cantik. Bau belerang jelas tercium selama berada di kawah karena masih aktif. 


Sesudah puas di Kawah Putih, kami turun kembali. Setelah itu kami menuju mobil, lalu kami menuju tempat wisata berikutnya yaitu Setu Patenggang. Disana terdapat danau yang ditengah-tengahnya terdapat semacam pulau kecil. Untuk dapat ke Pulau tersebut, bisa menggunakan kapal-kapal kecil yang tersedia dipinggir. Kalian bisa menawar harganya sesuai dengan yang diinginkan. 


Suasana disana sangat tenang dan udara terasa segar sekali. Setelah itu kami kembali pulang ke tempat penginapan setelah sempat berkeliling sejenak di sepanjang kota Bandung. Kemudian sesampainya di penginapan, kami beres-beres barang bawaan karena esoknya kami akan pulang ke Jakarta.  Saat pulang, saya menggunakan bus karena ternyata untuk kereta api antriannya sudah cukup panjang. Selain itu karena pertimbangan waktu tiba yang relatif lebih cepat dibanding dengan kereta. Seperti itulah perjalanan singkat saya ke Bandung. Perjalanan yang relatif singkat tapi berkesan di hati saya.

riska

No comments:

Post a Comment