Dimanakah Batas ... ?

Jarum jam kamarku menunjukkan pukul 05:25. Langit tentu masih gelap dan samar-samar aku bisa mendengarkan suara ayam berkokok serta perlahan kudengar langkah kaki beberapa orang menuju musholla. Pagi ini biasa saja untuk orang biasa-biasa saja seperti aku. Aku menghabiskan cangkir kopi ke tiga yang sengaja aku buat untuk menemaniku semalaman sambil memandangi jurnal yang entah tak pernah aku mengerti.


Mataku semakin sulit diajak kompromi. Ya memang, saat seperti ini lebih enak dihabiskan dibalik selimut sambil bermain di alam mimpi. Tapi sudahlah.. banyak alasan yang membuat aku merasa mimpi itu menjauh dari diriku. Iya tak sekedar berjalan, tapi berlari dariku. 

Hingga akhirnya aku tak lagi yakin, apakah aku ini nyata atau aku hanya terjaga dari mimpi lainnya.


Setiap malam aku terkenang akan masa lalu. Bangunan tua, suara jangkrik, kunang-kunang dan sinar bulan purnama. Betapa hidup terasa lebih mudah saat aku melihatnya dari kacamata seorang anak kecil. Begitu polos dengan berjuta pertanyaan serta celotehan yang kadang luput terpikirkan oleh orang dewasa. Namun waktu seperti menolakku untuk menikmati lebih lama masa kecilku. Aku tumbuh dengan cepat. Sekelebat pahit dan manis datang bergantian. Adakalanya, mengambil tempat yang lebih luas dari jatah biasanya dan adakalanya Sang Pencipta memberikan bonus ekstra untuk mencicip lezatnya dunia ini.

***

"Hmm.. tapi bukankah rasa itu cuma sekedar ilusi? apakah itu nyata atau hanya fiksi?"

"Selapis perbedaan hanya bisa kamu lihat jika kamu melihat lebih dalam. Kamu jangan mencari jawaban ke luar. Namun, carilah jawaban ke dalam."

"Di mataku, kopi pahit ini seperti mengecup sebagian kecil dari keindahan semesta. Di matamu, kopi ini pahit, hitam dan menyakitkan. Seperti itukah?"

Kemudian kamu mengernyitkan dahi saat membaca ini. "Tidak usah kau pikirkan untuk dimengerti. Belajar untuk mengerti alam.. itu lebih dari cukup"

Aku mulai memijit pelan kedua kelopak mataku. Perlahan memejamkan mata. Mencoba mencari jawaban dari setiap masalah. Entah dengan metode apa dan menggunakan landasan teori yang mana. Yang kutahu, pada akhirnya ada satu kesimpulan yang bisa diambil dari perjalanan. Perjalanan hidup yang bisa dilihat dari sudut manapun.

Entah ini fiksi atau nyata.

riska

No comments:

Post a Comment