Dengarkan Langit. Temukan warna..

Ia mulai berjalan ke arahku. Jejak pasirnya perlahan mulai mendekat. Kamu tersenyum sekilas kepadaku yang sedari tadi duduk memandangi langit senja di bibir pantai ini. Kadang aku bingung, mengapa kamu bisa betah duduk lama disampingku saat aku hanya melihat lurus tanpa kata memandangi batas cakrawala?
Katamu, kamu tak hanya ingin mengganggu waktu aku berkomunikasi dengan langit. 
Katamu, kamu hanya ingin belajar memahami bahasa alam.
Katamu, kamu hanya ingin melihat angin memainkan rambut panjangku.
Katamu, kamu ingin berusaha menerjemahkan lagu ombak dan paparan sinar mentari keemasan.


Tapi mengapa aku hanya diam ?
Menunggu langit berubah menjadi hitam dan menunggu kerlip bintang?
Hanya waktu yang bisa meluluhkan diamku, ucapmu.
_____________________________________________

Perkenalkan, namaku Jingga. Hidupku adalah pertemuan warna merah dan kuning. Kadang ditambah sedikit hitam atau kadang sedikit warna putih. Aku menjalani hidupku dengan biasa-biasa saja. Terlampau biasa malah. Rumahku adalah alam. Alamatku ? Ada di bawah langit. Aku tak mengenal istilah pulang kampung. Aku tak memiliki tujuan. Semuanya buatku hanyalah persinggahan. Mana yang merah atau yang kuning terasa samar semenjak aku bisa mengingat alasan aku melangkahkan kaki ke sini. Aku telah menjelajah dari hitam hingga menemukan warnaku. Pernah di sebagian diriku muncul tanda merah, tapi tak lama. Hanya sekilas. Kemudian aku mengumpulkan serpihan yang pernah menyulitkan aku untuk berpijak. Namun akhirnya aku bisa berlari. Jauh ... dari apa yang Ia sebut Rumah. Mengapa setiap kali harus ada pertanyaan, "darimana kamu berasal ?" Bukankah tidak perlu asal kita dari mana, yang paling penting adalah perjalanannya ? Menikmati perjalanan sambil menemukan warna-warni dunia ini. 
_____________________________________________

Namaku Biru. Nama panjangku Langit Biru. Ibuku ingin aku memiliki hati seluas langit dan biru adalah warna kesukaan ayahku. Sejak kecil aku selalu dilatih menjadi seorang berjiwa bebas namun tetap berpijak pada bumi. Rumahku ada di pinggir pantai. Aku masih ingat hari itu, saat aku bertemu dengan wanita itu. Seseorang yang terlihat sedang mengalami hal yang sangat krusial dalam hidupnya. Ia tengah duduk di pinggir pantai. Menikmati deru ombak. Kemudian aku duduk disebelahnya, berusaha untuk memulai percapakan dengannya. Singkat kata Ia ternyata bukan  penduduk aseli sini. Ia berasal dari seberang pulau, tapi Ia tidak sedang liburan dan Ia bilang ia tidak berencana untuk menetap di sini. Ia begitu pendiam. Hanya menjawab seperlunya saja. Kamu selalu ke pantai itu setiap senja. Lalu pergi entah kemana dan kemudian muncul kembali di senja berikutnya. Aku suka melihat kamu memejamkan mata sambil menikmati desiran angin. Dari beberapa kali aku memperhatikanmu dari kejauhan, akhirnya aku kembali memberanikan diri untuk mengajakmu berbicara. Berusaha untuk berbicara filosofi asal-asalanku tentang dunia, tentang langit, laut dan senja.  Tanpa kusadari aku mengulurkan tanganku, "Namaku Langit Biru, pangggil saya Biru". Lalu Ia bilang namaku bagus, kemudian Ia membalas singkat uluran tanganku "Jingga". Kamu tersenyum tipis. Akhirnya aku bisa melihat langit senja di matanya. Aku tak perlu apa-apa lagi untuk menerjemahkan heningmu. Aku hanya butuh kamu yang lebih lama lagi duduk di pantaiku.




riska

No comments:

Post a Comment