Surat kelabu untuk manusia abu-abu

"why do I and everyone I love pick people who treat us like we're nothing?"
"we accept the love we think we deserve."
_______________________

Dear Friend,


Sebenarnya aku ingin sekali menuliskan banyak cerita kepadamu, namun .... hingga detak jarum jam telah lelah menalu-nalu, aku tak juga bergeming. Semuanya seakan terhenti di jemariku. Tentang hariku yang tak lagi biru atau mungkin tak lagi jingga. Aku seperti berjalan di dalam sebuah terowongan gelap, entah dimana ujungnya. Aku tidak melihat cahayanya. Peluhku mulai berjatuhan ke tanah. Perlahan aku mulai menyalahkan langit. Tapi aku tak bisa lagi melihatnya. Mungkin nanti. Bukan sekarang. 

Dan sebagaimana aku ingin menuliskan kekecewaanku pada seseorang, uh bukan. mungkin pada dunia. Tapi... nyatanya aku tidak sendiri. Semua kabur, semua abu-abu. Tidak ada yang benar putih atau benar hitam, yang ada hanya menerima. Hingga hujan mengaburkan luka yang kembali basah. Kamu pernah merasa tidak, ada di suatu keadaan saat kamu kehilangan rasa percaya dengan sekelilingmu ? Kamu mulai meragukan semua informasi yang kamu dapatkan. Aku mulai kembali menuliskan surat ini kepadamu. Berusaha kembali berkomunikasi denganmu, seseorang yang bisa kupercaya.

Apa kabar kamu disana ? Aku disini baik-baik saja. Sekarang aku sudah mulai jarang melukis senja, sejak aku kesulitan menatap matamu. Mungkin terasa aneh bagimu, aku tidak menanyakan kabarmu diawal-awal tulisan ini. Ah biarlah semua seperti ini apa adanya. Tahukah kamu, aku mulai mencoba untuk meminum kopi hitam, kopi kesukaanmu? Semuanya terasa begitu cepat berlalu ya kawan? Aku masih ingat saat pertama kali melihatmu menyeruput kopi hitam panas itu. Pada saat itu aku mengernyitkan dahi, 'bagaimana kamu bisa sangat menikmati rasa pahit yang kau tegak itu?' Lalu kamu bilang, 'kalau bisa berada di sini saja sudah terasa manis, buat apa aku perlu gula?'. Aku pun tertawa, merasa jawaban yang kamu berikan itu adalah jawaban terbodoh yang pernah kudengar. Ya kamu memang bisa bilang kalau aku adalah orang yang sangat pesimis atau apapunlah namanya. Tapi sekarang aku sadar maknanya. Semesta sudah mengajari aku dengan bahasanya tentang segala hal yang dulu di masa lalu pernah aku lewatkan.





with love,

-R

riska

No comments:

Post a Comment