Taman bermain kecilku.


Izinkanlah aku bercerita, menjadikan ranah maya ini sebagai taman bermain kecilku. Tempat dimana aku bisa berlari sejauh apapun tanpa harus takut menabrak dinding pembatas. Tempat dimana aku bisa tertawa dan menangis tanpa harus ditodong oleh berbagai pertanyaan-pertanyaan retoris. Tempat dimana aku bisa belajar merangkai aksara tak berkmana menjadi kalimat demi kalimat bermakna....
setidaknya untuk diriku sendiri. 

Aku tidak tau kemana arah tulisan-tulisan selanjutnya akan berlabuh. Seperti melemparkan surat kecil yang aku sisipi ke dalam botol lalu melemparnya ke samudra lepas. Biarkan ia mengarungi sampai entah kemana. Sama seperti tulisan ini yang entah kemana ia akan tertambat dan melaju. Biar ia mengalir, ikuti ombak yang membawanya.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ok.. aku jelaskan dengan lebih rinci. Saat ini pikiranku sedang ramai. Ramainya seperti pasar pagi. Coba kamu bayangkan. Setiap kamu ingin pergi tidur, kamu dihinggapi oleh berjuta imajinasi yang meletup-letup dan siap untuk digodok. Begitu juga saat kamu bagun tidur dan lebih gilanya lagi saat kamu sedang sikat gigi, kamu tetap dikejar oleh imajinasi tersebut. Imajinasi itu dinamis, kadang menari, kadang mengepakkan sayapnya, kadang diam dan hanya memancarkan sinarnya yang berkilauan. Kemunculannya tak terduga. Magis. Rasanya begitu sayang untuk melewatkan berbagai pikiran aneh ini tanpa mengabadikannya.

Apakah ini bisa disebut buku harian? Hmm.. bisa iya, bisa tidak. aku rasa tidak bisa disebut buku harian virtual, karena fragmen-fragmen yang nanti akan kutuliskan semacam rangkaian cerita yang terinspirasi oleh kehidupan-kehidupan sekitar saya. Setelah selama ini menjadi 'tempat sampah' teman-teman saya, saya rasa ada beberapa potongan percakapan yang bisa saya jadikan renungan. Tapi kemanakah fragmen itu berujung? aku tidak tahu. Dan sampai saat inipun aku tidak jelas dorongan macam apa yang membuat aku menulis ini. Mungkin ini semacam momentum untuk lebih rajin mengisi ranah taman bermainku yang rasanya sudah penuh dengan debu saking jarangnya aku berbenah.

Anggaplah saat ini sudah berkontraksi, berteriak-teriak minta dilahirkan.
Semacam kelahiran kebebasan imajinasi dari sebuah jeruji otak. Otak saya yang berperan sebagai hardware dan tangan serta jari saya sebagai software. Sedangkan tulisan ini semacam surat elektronik yang entah ingin aku lemparkan ke samudra atau malah aku terbangkan ke angkasa.

Anggaplah ini sebagai awal. 
Titik awal dari perjalanan panjang yang siap menanti..
Melesat seperti komet dengan orbitalnya sendiri, tunggu sampai ia kembali lagi.
itulah.... Cosmic Journey.

riska

No comments:

Post a Comment