Detik Krusial

Aku telah menempuh ribuan kilometer untuk sebuah pencarian. Pencarian yang ternyata tak dapat kupecahkan.

Aku melewati jalan bebas hambatan saat malam mulai merindu sang surya. Sepi, dingin dan lembab. Hanya deru halus yang samar terdengar. Tak banyak yang bisa kulihat. Aku melihat garis putih panjang yang tak berkesudahan dan lampu-lampu yang berjajar dengan statis.

Sepertinya aku tersesat.

Aku kehilangan arah. Aku tak menemukan papan hijau bertuliskan huruf bercat putih di atas sana.
Kendaraan-kendaraan dibelakangku mendahuluiku, melaju cepat dengan angkuhnya. Tanganku mulai bergetar. Kakiku mulai terasa lemah. Semua begitu membingungkan dan yang tersisa hanyalah diriku yang tak tahu kemana arahnya.

Selama 3 detik aku seperti hilang kesadaran. Hampir saja aku menabrak pembatas jalan.

Aku memutuskan untuk jalan terus sampai bulan sudah lelah menampakkan wajahnya. Matahari sudah siap kembali dari peraduan. Aku yang sudah mulai kelelahan memutuskan untuk rehat sejenak. Aku berhenti disatu kota yang tak kukenal.

Asing.

Aku memutuskan untuk sarapan sembari minum secangkir kopi. Mungkin kebiasaanku di ibukota sudah mentransformasi diriku menjadi mutan yang terobsesi dengan kafein. Rasa pahit bercampur aroma yang kuat seakan mampu mengusir kabut yang ada di diriku.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Pikiranku hinggap pada suatu senja yang mendung. Awan kelabu bergelayut manja di langit. Aku bersama mereka berjalan ke arah utara. Kami tertawa melepas penat.

Namun, saat itu bagiku
Tawa tak harus lepas.
Tawa tak harus bebas gelisah.
Tawa mungkin terikat pada jarum jam yang terus menerus berdetak tak mengenal lelah.

Awan ternyata tak lagi mampu menampung uap air yang telah mengembun menjadi butir air di atas sana. Tetesan demi tetesan perlahan mulai membasahi pori-pori tanah. Kami pun menepi, berlindung dibawah atap seng yang mulai berkarat. Mendadak hening dan hanya suara tetesan jutaan kubik air yang jatuh dari atap.

3 detik kemudian,

Hening berhasil terpecahkan oleh suara salah satu dari kami. Percakapan mengalir seiring hujan yang tak jua berkompromi dengan kami. Hanya aku yang membisu. Aku membisu namun telingaku tetap mendengar. Aku berusaha mengalihkan perhatianku dengan menghirup aroma tanah basah..... tapi tak berhasil.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Saat itu aku menaiki tangga berwarna kelabu dan melewati jalan yang cukup panjang. Aku pun tiba pada sekumpulan orang yang sedang menunggu sesuatu. Tampak raut wajah lelah yang mereka pancarkan. Bulir keringat mengalir perlahan.

Tiba-tiba aku menoleh ke sebelah kiri. Mataku menangkap suatu sosok yang telah aku kenal baik di seberang sana. Ia pun mengedarkan senyum kepadaku. Matanya ikut tersenyum dengan binar yang menenangkan. Aku membalas senyumnya, namun mataku tak mampu ikut tersenyum.


Saat itulah.....
30 detik krusial yang terlewati.

riska

No comments:

Post a Comment