Senja....


Senja mulai menyapaku.
Aku duduk terdiam memandangi siluet gedung tinggi yang menjulang dengan angkuh.
Pikiranku melayang-layang jauh entah kemana. Ada sesuatu yang mencoba memasuki pikiranku, namun hatiku tetap kosong.... (hampa)

"Mata kita terbuka, namun hati kita tertutup..."

Apakah aku harus tetap terdiam dan menutupnya? atau aku coba berusaha membuka sedikit pintu, kemudian membiarkan orang asing masuk? Tidakkah itu cukup berbahaya, karena kita tidak tahu apakah Ia membawa tenang atau membawa pisau belati di belakang punggungnya? Aku tau hidup memang pertaruhan nasib. Kita tidak pernah tahu kalau kita tidak pernah mencoba. Tapi sepertinya aku belum siap. Belum terlalu siap untuk membukanya.Biarkan aku menutupnya sekali lagi, dan sesekali mengintip dari dalam.. menunggu saat yang tepat.

"Saat yang tepat"
aah.. ini adalah rangkaian kata yang tak jelas dan tak berujung. Masihkah aku terperangkap dgn segala pemikiran idealisku? Membanjiri otakku namun tak dapat tersalurkan dengan sempurna?

Apakah aku harus menyerah begitu saja?
Berhenti dan terus menunggu datangnya fajar?

Buatlah aku percaya pada sesuatu yang datang mengetuk pintu itu.

Hilangkan segala ragu yang menyesakkan dada.

riska

No comments:

Post a Comment