Manusia Sebagai Makhluk Individu dan Hubungannya Dengan Cita-cita serta Tuhan

Selama hidupnya, manusia tidak pernah terlepas dari cita-cita dan Tuhan sebagai sang pencipta. Manusia senantiasa memiliki tujuan untuk dicapai dalam kehidupan ini. Setiap manusia pasti memiliki cita-cita atau impian. Sebelum membahas lebih lanjut, kita harus mengetahui Apa yang dimaksud dengan Manusia sebagai makhluk individu?

Dalam bahasa latin individu berasal dari kata individium yang berarti yang tak terbagi, jadi merupakan suatu sebutan yang dapat dipakai untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan tak terbatas.

Manusia sebagai makhluk individu memiliki unsur jasmani dan rohani, unsur fisik dan psikis, unsur raga dan jiwa. Seseorang dikatakan sebagai manusia individu manakala unsur-unsur tersebut menyatu dalam dirinya. Jika unsur tersebut sudah tidak menyatu lagi maka seseorang tidak disebut sebagai individu. Setiap manusia memiliki kepribadian yang unik. Jadi, tidak ada satupun manusia yang persis sama antara satu dengan yang lainnya.

Lalu, Apa yang dimaksud dengan Cita-cita? Menurut kamus umum Bahasa Indonesia, yang disebut cita-cita adalah keinginan, harapan, tujuan yang selalu ada dalam pikiran. Baik keinginan, harapan, maupun tujuan merupakan apa yang mau diperoleh seseorang pada masa mendatang. Dengan demikian cita-cita merupakan pandangan masa depan dan merupakan pandangan hidup di masa yang akan datang dalam kehidupan manusia. Pada umumnya cita-cita merupakan semacam garis linier yang makin lama makin tinggi, dengan perkataan lain: cita-cita merupakan keinginan, harapan, dan tujuan manusia yang makin tinggi tingkatannya.

Masa sekarang yang sedang terjadi merupakan suatu realita, sedangkan masa yang akan datang disebut cita-cita yang terdapat jarak waktu diantaranya. Saat ini manusia memiliki ide atau cita-cita dan dia akan berfikir bagaimana caranya supaya dia bisa mencapai cita-cita tersebut di masa yang akan datang. Manusia dituntut untuk selalu berusaha dan berjuang demi menggapai cita-cita dengan usahanya sendiri.

Cita-cita dapat tercapai bergantung dari beberapa faktor. Pertama, manusia itu harus memiliki suatu cita-cita yang ingin ia capai. Kedua, kondisi yang manusia itu hadapi selama ia berusaha untuk mencapai apa yang ia cita-citakan; dan ketiga seberapa tinggikah cita-cita yang hendak dicapai.

Faktor manusia, untuk mencapai suatu keinginan terlebih dahulu manusia itu sendiri harus memiliki cita-cita. Apa yang ia ingin gapai pada masa mendatang. Cita-cita tersebut dijadikan suatu motivasi atau dorongan dalam kehidupannya. Kerja dan kemauan yang keras merupakan suatu perjuangan dalam hidup yang dapat memberikan rasa puas kepada dirinya sendiri.

Kemudian Faktor kondisi yang dapat mempercepat atau menghambat seorang manusia untuk mencapai cita-citanya tersebut. Sebagai contoh yang banyak kita temukan saat ini yaitu masalah keuangan. Banyak ditemui anak-anak yang cerdas tetapi kondisi keuangannya tidak memungkinkan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Lalu si "orang kaya" yang diuntungkan dengan kondisi keungannya yang dengan mudahnya mendapatkan pendidikan yang baik sehingga mempermudah ia dalam menggapai cita-citanya.

Lalu faktor tingginya cita-cita. Ada pepatah yang mengatakan "Gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang". Tetapi hendaknya manusia mencapai cita-cita sesuai dengan kemampuan yang ia miliki. Manusia harusnya secara bertahap membuat suatu cita-cita kecil (suatu keinginan yang dapat dicapai dalam waktu dekat dan sesuai dengan kemampuannya) yang secara bertahap mendukung jalannya untuk mencapai cita-cita utama.

Faktor-faktor diatas mungkin dapat membuat seorang manusia menjadi kecil hati dan merasa tidak mungkin dapat meraih apa yang dicita-citakan. Tapi ingat, kita masih punya Tuhan Yang Maha Esa. Apapun mungkin bagi-Nya kalau berusaha dan selalu ingat akan-Nya. Manusia harus selalu bersyukur dengan apapun yang dicapai pada saat ini dan selalu berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai apa yang ia inginkan asalkan dengan cara yang baik. Tuhan selalu mendengar doa hamba-Nya dan selalu mengabulkan apapun yang diminta tepat pada waktu-Nya.

Mungkin bagi orang lain cita-cita kita tidak mungkin tercapai, tetapi kita harus percaya akan kemampuan sendiri dan Tuhan. Jangan putus asa dan cepat menyerah. Jadikanlah kata "tidak mungkin" tadi menjadi suatu penyemangat bahwa kita bisa dan kita mampu untuk mencapainya karena yang tahu kemampuan seorang manusia adalah manusia itu sendiri. Hendaknya manusia memiliki cita-cita yang berguna bagi diri sendiri maupun orang lain sehingga cita-cita itu diberkati oleh Tuhan.

Carilah kisah orang-orang sukses sebagai motivator dalam pencapaian cita-cita tersebut. Untuk mendapatkan motivasi tersebut bisa dengan membaca buku tentang kisah-kisa orang sukses atau dengan cara menonton film yang menceritakan usaha seseorang dalam mencapai cita-citanya. Dengan begitu kita tidak merasa bahwa cita-cita kita adalah suatu hal yang mustahil dan sangat sulit dicapai. Kita juga dapat meminta dukungan dari orang-orang terdekat atau keluarga supaya menyemangati kita untuk tidak mudah menyerah.

Manusia harus memiliki harapan, walaupun sekeras apapun tantangan dalam mencapai cita-cita tersebut. Berusaha untuk sabar dan terus menanti waktu yang tepat. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan wajib berdoa kepada-Nya. Minta bantuan-Nya agar semuanya dipermudah. Usaha yang keras tanpa doa merupakan suatu yang sia-sia karena segala sesuatu terjadi menurut kehendak-Nya. Manusia sudah berjuang dan biarlah Tuhan yang mengatur apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

Kunci dalam pencapaian cita-cita tersebut adalah manusia harus percaya dan terus berjuang.

riska

No comments:

Post a Comment